اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَالسَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ

Saat Wajah Sayyidina Ali Diludahi

Senin, 15 Juli 20130 komentar

Saat Wajah Sayyidina Ali Diludahi


Di masa perang Khandaq umat Islam pernah ditantang duel Amr bin Abd Wad al-Amiri, pimpinan musyrikin Quraisy yang sangat ditakuti. Kemudian nabi bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang akan memenuhi tantangan ini.

Para sahabat terlihat gentar nyali mereka surut. Didalam situasi ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib maju, lalu menyanggupi ajakan duel Amr bin Abd Wad. Dengan melihat Ali yang masih terlalu muda, Nabi pun mengulangi tawarannya kepada para sahabat sampai tiga kali, ternyata hanya Ali yang menyatakan berani melawan jawara Quraisy itu.

Amr bin Abd Wad menanggapinya dengan tertawa mengejek, namun faktanya selama perkelahian nasib mujur tetap ada di tangan Ali. seusai paha kekarnya disabet pedang  Amr bin Abd Wad pun tumbang ke tanah. Dan kemenagan Ali sudah di depan mata, dengan sedikit gerakan saja, nyawa musuh dipastikan melayang.

Dalam situasi terpojok Amr bin Abd Wad masih menyempatkan diri membrontak. Seketika itu tiba-tiba ia meludahi wajah sepupu Rasulullah itu. Karena menaggapi hinaan ini, justru Ali kian pasif. Kemudian Ali menyingkir dan mengurungkan niat membunuh hingga beberapa saat.

”Saat dia meludahi wajahku  aku marah. Namun aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Setelah itu aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata karena Allah SWT,” kata Ali menjawab kegelisahan sebagian sahabat atas sikapnya.

Meskipun Amr bin Abd Wad akhirnya gugur di tangan Ali, proses peperangan ini memberikan beberapa pelajaran. Dan perjuangan atas pembelaan Islam harus didasarkan pada ketulusan iman, namun bukan kebencian dan kemarahan. Para sahabat Rasulullah yang kelak menjadi khalifah keempat ini juga menjernihkan bahwa spirit ketuhanan adalah satu-satunya landasan, untuk mengalahan nafsu keinginan di balik ego pribadi dan golongan
Share :

Poskan Komentar

 

Copyright © 2011. Meniti Ridlo Ilahi - All Rights Reserved
Published by El Fakir Abi Salwa
Proudly powered by Blogger